Vonis Dokter dan Kesempatan Kedua

Minggu lalu, saya mendapat keponakan baru. Ini ‘sesuatu banget’ buat kami sekeluarga, karena sang ponakan sempat divonis dokter sebagai janin yang tidak berkembang alias blighted ovum. Untungnya adik saya dan isterinya memutuskan mencari second opinion dari dokter lain, yang kemudian menyatakan masih ada kemungkinan meneruskan kehamilan. Demikian hingga pada tanggal 11 April lalu lahirlah bayi perempuan lucu yang Alhamdulillah, sampai detik ini normal dan sehat.

Saya jadi teringat kisah emak waktu mengandung saya. Beberapa dokter sudah menyatakan, “Ini janin lemah, kalau diteruskan tidak akan bagus”. Menurut pengakuan emak, beliau beberapa kali disuntik untuk mengeluarkan saya, sang janin. Untungnya beliau kemudian sampai pada dokter lain yang mengatakan “Dicoba aja bu, Bismillah”. Emak saya pun meneruskan kehamilan.  Dan, jreeeng…. lahirlah saya,  yang sekarang sudah segede ini, dan ternyata nggak jelek-jelek amat! Lumayan bisa masuk ITB , walau hanya mahasiswi mediocre dan penggembira. Efek upaya untuk ‘menggugurkan’ saya ternyata hanya bikin rusak saraf pendengaran. Syukurlah cuma kuping kiri yang tuli total. Walhasil sekarang kalau saya keasikan korek kuping kanan (korek kuping kan nikmat!) sampai merem-melek, suami saya langsung protes “Be careful don’t hurt yourself, I don’t want to learn sign language” 😀

Kalau ingat bahwa saya dulunya juga ‘hampir tidak ada’, kadang bikin saya rada-rada insap untuk lebih menghargai hidup, karena sudah untung diberi kesempatan untuk hidup . Bicara soal kesempatan kedua, beberapa waktu lalu di kantor/lab saya kedatangan tamu yang sungguh memberi saya pencerahan soal ini.

Apop Harris

Namanya Jessica Stevens, ia adalah mantan penderita suatu penyakit langka bernama  Reflex Sympathetic Dystrophy, sebut saja RSD (Bukan Rida Sita Dewi yaa ). RSD merupakan kelainan saraf yang bila sangat parah seperti yang dialami Jessica, rasa sakitnya tergolong tinggi sampai tidak bisa ngapa-ngapainPain scale/ skala rasa sakit yang dirasakan pasien RSD bisa mencapai angka tertinggi dibandingkan dengan sakit karena melahirkan normal, amputasi, patah tulang atau kanker. Ini terjadi karena ujung-ujung saraf penderita tak henti-hentinya mengirim sinyal ke otak, hingga otak merespon dengan mengeluarkan zat kimia yang membuat rasa sakit terbakar, tertusuk di sekujur tubuh. Akibatnya Jessica tak bisa hidup normal karena terus menerus kesakitan. Ngilu mendengarnya.  Ia hidup, tetapi tidak bisa menjalani hidup. Jessica bercerita, setelah segala upaya dilakukan, dokter di seantero Amerika Serikat sudah ‘menyerah’ untuk menangani kondisi ini. Ia malah disarankan ke Meksiko untuk menjalani pengobatan yang tidak bisa dilakukan di AS. Pengobatan ‘alternatif’ ini bukannya tak berisiko mengancam nyawanya. Ia memutuskan menempuh risiko itu, dan kini Jessica terlihat begitu sehat, semangat, walaupun harus duduk di kursi roda.

Kenapa di Amerika Serikat, yang katanya lebih maju dalam dunia kedokteran bisa tidak mampu menangani penyakit ini, malah si Jessica sembuh setelah berobat ke Meksiko? Ini mirip-mirip dengan film Dallas Buyers Club. Buat yang belum nonton, itu loh, film yang bikin Matthew McConaughey meraih Oscar pemeran pria terbaik tahun ini. Film kisah nyata penderita AIDS berjuang mencari pengobatan alternatif sampai harus ke luar Amerika Serikat. Alasannya kira-kira sama dengan Jessica: Obat/tindakan yang memungkinkan untuk menyembuhkan pasien, belum dianggap legal oleh hukum di AS. Menjalani pengobatan ini tidak bisa di AS karena akan melanggar hukum.

Balik ke kisah Jessica, satu-satunya prosedur yang memungkinkan dilakukan saat itu adalah ketamine coma dosis tinggi, yaitu mengkomakan pasien memakai obat ketamine dengan harapan sistem saraf yang rusak bisa kembali normal setelah distirahatkan. Ibarat me-restart komputer yang nge-hang, tapi tentu saja dengan risiko besar. Jessica sempat bangun sehabis di-restart alias dibuat koma, dan bukannya bertambah baik, malah kehilangan penglihatan! Dokter harus membuat dia kembali koma, proses panjang 2 tahun sampai akhirnya ia diizinkan ‘hidup lagi’. Tak heran kini ia begitu semangat dan optimis. Melihatnya sekarang dan membandingkan dengan keadaannya dulu rasanya tidak percaya.  Sekilas ceritanya bisa dilihat di video cuplikan berita di bawah ini:

 

Sebenarnya bisa dimaklumi kalau tindakan medis ini dilarang di Amerika Serikat karena berisiko. Tetapi ada yang menarik soal hukum di AS bila dibandingkan dengan di Indonesia. Di satu sisi kita kadang memuja negara maju seperti AS yang begitu melindungi pasien dari malpraktik, dan spontan membandingkan dengan di Indonesia yang justru banyak pasien tak berdaya menghadapi kasus malpraktik  karena lemahnya hukum.  Di Indonesia pengobatan alternatif juga bebas merajalela dan kurang ada kontrolnya. Kedua sisi ekstrim menurut saya tidak bagus juga.  Sisi gelap dari hukum di AS; terkadang alih-alih melindungi pasien dari malpraktik, justru malah membatasi pasien untuk mencari alternatif kesembuhan yang memungkinkan. Seolah ilmu kedokteran yang notabene adalah ilmuNya yang Maha Luas, dibatasi hanya pada metode yang dilegalkan oleh pemerintah AS saja. Belum lagi ada kepentingan industri asuransi kesehatan, produsen obat dan pengacara. Produsen obat cari makan lewat jual obat, bisa melobi pemerintah lewat FDA buat melarang obat alternatif kompetitor. Pengacara cari makan lewat tuntutan malpraktik terhadap dokter. Dokter takut terhadap pengacara sehingga bisa ragu mengambil tindakan. Pasien tetap membayar biaya medis mahal walaupun sudah punya asuransi kesehatan. Pusing, lieur? Sama! Intinya, penyelenggara negara jadi bisa ditarik-tarik membuat kebijakan berdasarkan kepentingan periuk berlian mereka,  bukan kepentingan dan kemudahan pasien.

Anyway, berkaca pada kelahiran keponakan yang mirip dengan kelahiran saya yang hampir tidak jadi, serta  pertemuan saya dengan Jessica, saya kembali diingatkan untuk bersyukur atas nikmat hidup dan nikmat sehat. Tidak usah berlebihan komplain dan iri pada orang lain, karena di saat kita kepingin seperti orang lain, banyak orang berjuang untuk kepingin sekali sekedar memiliki apa yang kita punya: nikmat sehat.

Di luar dokter salah diagnosa dan memvonis tidak ada jalan kesembuhan, masih ada dokter yang lebih pintar dan mengupayakan jalan lain .  Di luar dokter yang paling pintarpun masih ada yang Dia Yang Maha Pintar, yang kuasa memberikan kesembuhan. Apa yang menurut pengetahuan manusia saat ini mungkin tidak ada obatnya,  bisa jadi karena ilmu kita masih terlalu cetek untuk mengungkapkan ilmuNya,  Dia yang ilmu dan kekuasaanNya lebih luas dari segala dokter dan ilmuwan manapun.

Golput Intelek: Saya golput dan saya bangga!

Pemilu lagi. Pro-kontra golput hadir lagi. Sebenarnya ada bermacam alasan untuk golput. Golput terpaksa, misalnya tidak dapat surat suara, berhalangan di hari pencoblosan, atau sudah benar-benar melakukan riset mengenai caleg di dapilnya, tapi terbukti semuanya koruptor  🙂  Ada pula orang-orang yang terlalu jauh untuk mengerti mengapa ia harus mencoblos; mereka yang untuk makan sehari-hari pun masih susah, mereka yang seharusnya dipelihara oleh pemerintah namun berapa kalipun pemilu tidak pernah perubahan menyentuh mereka.

Golput di atas tentu berbeda dengan golput intelek yang secara sadar dan sengaja tidak memilih bahkan bangga dan mengkampanyekan kegolputan-nya. Di antara para “aktivis golput” yang saya amati, biasanya punya jargon yang terus dipegang dari jaman perlawanan orde baru bahwa  “Golput adalah bentuk perlawanan terhadap sistem”, atau yang lebih ekstrim lagi dalam tulisan ini: “Kaum golput adalah orang-orang optimis yang merasa tidak perlu memberikan mandat atas kehidupannya kepada figur-figur bandit”

Padahal kalau kita bayar pajak, maka DPR digaji dari pajak kita, bahkan bersama Presiden ikut menetapkan anggaran dan peraturan pemerintah.  Aneh juga kalau kita ngasih uang tapi nggak mau memastikan bahwa bukan ‘bandit’ yang mengelola uang kita.  Aktivis golput biasanya merasa tidak ada yang bisa mewakili dirinya yang kelewat intelek dan cerdas. Tetapi mereka merelakan orang-orang yang bahkan jauh dari cerdas untuk mengelola uang mereka.

Aktivis golput  bisa menularkan kegolput-annya pada orang-orang yang kebetulan memang malas riset, malas cari tahu, jadi ikut-ikutan golput sebagai pembenaran kemalasan mereka. Nah ini saya sebut aja  golput latah. Mereka ini lebih lucu lagi.  Sering kirim-kiriman gambar caleg ajaib, sambil bilang “Ngapain milih, caleg ancur-ancur bloon begini”. Mereka ngetawain caleg-caleg itu tapi nggak sadar kalau orang-orang yang mereka ketawain itu bisa jadi bakal mengelola uang mereka, membikin kebijakan buat mereka. Jadi mikir juga, sebenarnya yang ‘bloon’ itu siapa ya? Mengutip tulisan Eep Syaifullah Fatah:”Banyak yg suka berteriak sambil mencibir: ‘Indonesia adalah kapal besar yg sedang tenggelam!’ – Dia gak sadar bahwa dia ada di dalam kapal itu”

Memang sih, ada perbedaan besar antara aktivis golput dan mereka yang cuma latah golput. Aktivis golput biasanya dalam kehidupan sehari-harinya mungkin memang sudah banyak berkontribusi dalam perubahan di Indonesia, misalnya aktivis LSM, wartawan, relawan dan sebagainya. Jelas saja mereka sewot pada  orang-orang yang tidak lebih pintar dari dirinya dan mengajak mencoblos, karena mereka merasa “Nggak usah milih pun aku udah banyak bikin kontribusi kok. Emangnya perubahan hanya lewat Pemilu!”.

Benar, benar sekali. Berkontribusi pada bangsa tidak hanya lewat mencoblos, tidak hanya dilakukan 5 tahun sekali, tidak hanya euphoria mendadak ikut peduli. Berkontribusi pada bangsa harusnya terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari. Tapi kalau menurut saya yang naif ini sih, kalau bisa dua-duanya: kontribusi di dalam dan di luar Pemilu, kenapa tidak?.

Tidak semua orang harus terjun ke politik, karena banyak jalan lain menuju perubahan. Tetapi bila diberi kesempatan ‘gampang’ untuk berkontribusi dengan sekedar riset sebentar dan mencoblos, kenapa harus dilewatkan? Padahal dengan kecerdasannya, aktivis golput bisa menjadi pemilih cerdas yang melakukan riset mendalam mengenai orang yang diamanahkan. Mungkinkah mereka pada akhirnya “menjadi golput demi golput itu sendiri”, karena gengsi bila harus disamakan dengan pemilih kebanyakan yang memang musiman dan sering latah menjadi tim hura-hura belaka?

Apakah ada perubahan pemilu sekarang dari pemilu tahun-tahun silam? Dahulu, saya benar-benar tidak tahu calon saya, karena informasi terbatas. Di era socmed ini saya mengikuti proses pemilu dengan fun. Bukan semata karena ini pemilu pertama saya yang nggak perlu datang ke TPS dan tinggal main surat-suratan sama KBRI. Tetapi lebih  karena begitu mudahnya mendapatkan informasi tentang caleg, bisa melakukan analisa sendiri mengenai siapa yang akan kita pilih, tanya kepada teman yang kebetulan kenal sang caleg. Sesama teman pemilih berdiskusi dan bertukar informasi tanpa saling memaksakan pilihan apalagi sampai musuhan. Toh, tiap orang punya kriteria sendiri tentang caleg yang bisa mewakili dirinya. Hari gini, informasi sudah seabreg dan jauh sekali dari era kegelapan dan sensor di jaman Orba. Jadi menurut saya, ya, ada perubahan. Kalau jaman Orba, golput mungkin wajar.

Kalau nanti makin banyak orang-orang baik masuk di pemerintahan, apakah para aktivis golput itu akan tetap konsisten mencari pembenaran akan kegolput-annya?  Entahlah. Yang jelas, di negeri kita golput adalah hak, bukan kewajiban. Jadi golput juga hak dan kita tidak bisa memaksa. Ada juga yang bilang pemilu caleg mah males, mending gubernur atau presiden aja. Padahal, legislatif sama pentingnya dengan eksekutif. Ingat kasus bagaimana eksekutif hebat seperti walikota Surabaya, Ibu Tri RIsmaharini, ditekan oleh para anggota legislatif sehingga hampir mundur dari jabatannya? Patut diingat juga, harapan-harapan baru seperti Ibu Risma itu bukan produk dari orang-orang yang memilih untuk tidak memilih.

Mengutuk Syiah itu Trendi

Ini perasaan saya saja, atau apakah ada juga yang merasakan hal serupa? Beberapa bulan belakangan ini, timeline atau linimasa media sosial dipenuhi dengan opini yang menunjukkan betapa sesatnya Syiah. Buka Facebook, ada yang sharing berita “Awas Ulama Syiah”. Buka Whatsapp, tiba-tiba ada yang mengirimi “Daftar Caleg Syiah, waspadalah waspadalah”. Teman-teman yang  dulu dikenal adem ayem kini seolah serentak mengirimkan video, gambar, tulisan menunjukkan betapa si anu adalah syiah nan sesat dan harus dilaknat!

Entah dari mana awalnya, tapi kalau saya tidak salah ingat, konflik di Mesir jadi salah satu pemicu. Memang, perdebatan antara Syiah dan Sunni di Indonesia sudah ada dari dulu. Perbedaan itu biasa,  tapi rasanya  tidak pernah seperti sekarang ini.  Kata-kata “Syiah Laknatullah”, begitu populer, ringan sekali diucapkan atau ditulis dalam komentar-komentar perdebatan di media sosial. Orang yang dituduh Syiah tapi tidak mengakui, harus dicurigai sebagai taqiyah, yakni “pura-pura bukan Syiah”. Dengan demikian, tetap  akan ada alasan untuk terus membenci mereka.  Menakutkan. Bukan Syiah-nya yang menakutkan, tapi kebencian yang menjadi mainstream, itu jauh lebih menakutkan.  Ringan dan gampang sekali melaknat orang, memusuhi, membenci, dan mengajak orang lain untuk sama-sama membenci.

Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah  meneruskan artikel bergambar yang menurut saya terkesan lebay: membandingkan kehebatan dan kesederhanaan Ahmadinejad dengan khalifah di jaman Rasul, atau dengan pemimpin partainya. Kini orang yang sama meneruskan berita kebejatan rezim Syiah oleh Ahmadinejad, mencela Ahmadinejad habis-habisan. Begitu cepat berubah, tapi ada satu yang menurut saya tetap sama: tetap lebay. Lebay di sini maksudnya berlebihan dalam memuja, atau berlebihan dalam mencela, hingga mengabaikan fakta dan proporsionalitas.

Herannya, orang-orang yang saya kenal cerdas waktu di sekolah dulu, kok bisa-bisanya meneruskan gambar-gambar yang sudah jelas hoax tanpa cek dan ricek alias tabayyun dahulu. Sepertinya kalau sudah menyangkut fanatisme golongan, kecerdasan bisa hilang sesaat. Mengutip situs abal-abal yang jarang menyajikan data akurat, sudah biasa. Mencomot gambar bocah tidur di depan makam, dengan narasi “bocah Syria setelah orangtuanya meninggal”. Padahal ternyata si bocah adalah model karya seni eksperimental fotografer. Mengutip gambar akhwat yang katanya “meninggal tersenyum karena syahid di Mesir”. Padahal itu gambar akhwat Malaysia  sedang praktek merawat jenazah, makanya senyum. Saat diingatkan, yang mengingatkan malah dituduh tidak peduli umat Islam. Menurutnya sah-sah saja meneruskan gambar hoax kalau itu untuk menggugah keimanan. Astaghfirullah. Sebegitunya kah?

Beberapa kali saya dituduh antek Syiah, atau antek liberal, karena dalam pandangan mereka, saya mungkin terlihat membela. Padahal saya muslim biasa saja dan tidak berafiliasi dengan golongan manapun. Hanya semata berprinsip: Jangan menilai orang dari labelnya. Kalaupun benar labelnya, belum tentu isi sesuai kemasan label.  Tak penting siapa yang mengucapkan, kalau itu mengandung hikmah, mengapa malu belajar? Dari siapapun, ambillah hikmah itu. Janganlah kebencian terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil, itu yang diajarkan di quran, sepengetahuan saya yang awam ini.

Saat ini  gelombang “Let’s hate Syiah” yang lagi trendi adalah soal MUI yang menyatakan bahwa Quraish Shihab adalah ulama Syiah yang sesat. Saya teringat, sekitar tahun 2008,  umat Islam dipojokkan oleh film Fitna karya politisi Belanda Geert Wilders.kill_geert_wilders_muslims_indonesiaTak urung kemarahan, demo, bakar bendera rame-rame dan bawa spanduk “Kill Wilders”, mengutuk si pelaku, jadi tren di Indonesia. Apakah yang Quraish Shihab lakukan?  Beliau menulis. Ya, menulis tanggapan terhadap poin-poin yang dicela Geert Wilders dalam film tersebut. Tulisan tersebut beliau sebarkan gratis melalui media elektronik dalam bentuk pdf, beberapa dicetak dan dibagikan gratis di kerumunan tabligh akbar atau demo orang-orang yang marah menyuarakan ingin membunuh Geert Wilders. Beliau tidak mengompori orang atau  mengerahkan massa turun ke jalan. Cara “marah” beliau adalah dengan berbagi ilmu, menyebarkannya pada umat Islam agar tidak usah panik. Semua celaan gampang sekali dipatahkan kalau kita rajin mengkaji kitab kita sendiri. Tidak usah marah pada orang yang mencela. Buat apa resah, kalau kita yakin atas dasar iman dan ilmu bahwa Islam agama damai dan terus membuktikan kedamaian itu. Bukannya malah marah yang kontraproduktif dan membuktikan umat Islam pemarah dan mudah terprovokasi.

Quraish Shihab, dia Syiah atau bukan, itu urusan beliau sama Allah. Apa kita tidak akan belajar untuk lebih berilmu seperti beliau, hanya karena beliau divonis Syiah? Ada beberapa pandangan beliau yang saya kurang sepakat, tetapi bagi saya bukan halangan untuk belajar ilmunya yang seabreg. Salah satunya adalah buku Membumikan Al Quran, bagaimana mempraktekkan ajaran kitab dalam hal-hal sehari-hari yang simpel, tidak usah muluk-muluk.

Kembali lagi kepada tren mengutuk Syiah. Saya bukan penggemar teori konspirasi, tapi gelombang  yang mengajarkan kita untuk membenci belakangan ini membuat saya  curiga juga semua ini ada biang keroknya, penyandang dananya.  Orang-orang yang biasanya doyan teori konspirasi Yahudi malah juga getol menyebarkan kebencian  terhadap Syiah. Mungkinkah mereka ini justru secara gak sadar jadi obyek yang dimanfaatkan sama sang konspirator? (Abis gampang banget dikomporin. Dikasi gambar hoax dikit langsung sebar). Konspirator yang tidak ingin kalau Indonesia damai, yang diuntungkan oleh perang dan konflik. Wallahu Alam. Sekali lagi, pikir-pikir dahulu lah sebelum meneruskan berita, jangan karena dari “gank” atau golongan sendiri dijamin pasti benar dan bebas hoax. Kita dianugerahi  akal oleh Allah untuk menganalisa, jangan sampai kita kufur nikmat atas akal yang Dia berikan, cuma karena  ikutan trendi dan akibat peer pressure orang-orang di sekitar.

——————————————————-

Tulisan senada: Memutus Siklus Kebencian

Saya sholat dan saya menyesal?

Pernah nggak, habis sholat berasa nyesel? Nyesel karena sholatnya nggak berasa. Berasa-nya cuma karena asal udah rontok kewajiban.

Dipikir-pikir, selama hidup sepertinya saya lebih banyak melakukan sholat tipe ‘asal udah’, dibanding sholat tipe enakeun; berasa berkomunikasi denganNya, menyenangkan saat melakukan dan sesudahnya.

Padahal sebenarnya kalau dihitung-hitung, selisih waktu antara sholat yang dinikmati dengan sholat yang ‘asal udah’ itu nggak jauh-jauh amat, paling hanya selisih 2-3 menit.

Hanya 2-3 menit ‘ekstra’ untuk sesuatu yang sebenarnya jauh lebih ‘menyehatkan jiwa dan raga’, jelas lebih berharga dibanding terburu-buru tapi sesudahnya malah tidak berasa apa-apa. Terburu-buru yang aneh…  Soalnya kagak jelas juga apa yang dikejar  😦

Biasanya ini kejadian kalo sholatnya di “awal waktu”. Alias sholat dzuhur di awal waktu ashar, sholat ashar di awal waktu maghrib. Hadooh.. jelas aja nggak khusyu karena waktu mepet, padahal belum tentu ada hal signifikan untuk menunda. 

Ah, sholat.  Sepertinya mudah namun ternyata memang sulit bagi orang-orang yang tidak biasa khusyuk…

(Catatan di Facebook saya, November 9, 2011)

Razia KTP

Oke, ini cerita ketika saya baru pertama banget sampai di tanah Paman Sam setelah perjuangan yang lumayan. Baru saja lolos dari pemeriksaan panjang di bandara karena membawa segala macam bumbu, dan  perjuangan setahun lebih untuk mendapatkan visa imigran.  Ini bukan supaya bisa tinggal di Amerika, tetapi demi bisa tinggal bareng suami. Akan halnya suami orang Amerika, itu mah hanya kebetulan, sudah jodohnya begitu.

Saat baru tiba di Texas, saya belum punya green card  apalagi social security number. Hanya paspor yang menunjukkan spouse visa dengan conditional residence, alias masa percobaan sebagai permanen residen karena menikah dengan pria warga negara Amerika. Jadi dengan lugunya selalu inisiatif bawa paspor kalau mau pergi keluar,  walaupun sebentar ke pasar swalayan terdekat. Saya selalu membayangkan nanti bisa saja ada petugas yang mendadak periksa status imigrasi, terus kalau ketauan saya pendatang haram dan gak bisa menunjukkan bukti tinggal, bisa-bisa dideportasi. Ya, kayak razia KTP di Indonesia gitu deh, atau razia pendatang haram di Malaysia. Haha..

Ternyata, di sini tidak ada yang namanya razia KTP. Justru,  pendatang ilegal di Amerika sangat dimanjakan dan diakui, khususnya  dari Meksiko. Amerika di sebelah Selatan berbatasan dengan Meksiko. Banyak sekali pendatang dari Meksiko dan negara Amerika Latin lainnya  menyebrangi perbatasan kedua negara dan mencoba mengadu nasib di negeri Paman Sam ini. Anehnya, dibilang ‘ilegal’, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan; tertangkap razia KTP dan dideportasi. Tidak, itu tidak pernah terjadi, setidaknya jarang terjadi pada pendatang dari Amerika Selatan.  Malahan penduduk ‘ilegal’ ini bisa ilegal selama 20 tahun, beranak cucu, anak cucunya bisa sekolah gratis dan otomatis mendapatkan green card karena lahir di Amerika. Seorang ilegal bisa kuliah, dan bisa jadi ketua organisasi di kampus, dan diwawancarai di televisi dengan keterangan “illegal immigrant”. Aneh? Memang aneh. Ilegal tapi berani tampil, tidak takut ditangkap bahkan diakui keilegalan-nya.

Di lain pihak, banyak sekali orang yang susah mendapatkan visa Amerika, bahkan untuk keperluan pertemuan bisnis. Saya ingat cerita seorang rekan kerja di Indonesia yang harus berangkat untuk presentasi di kantor pusat World Bank di Washington DC. Satu orang anggota  tim tidak disetujui visanya. Akhirnya mereka harus berangkat tanpa si anggota tersebut, yang kebetulan namanya berbau muslim. Padahal  menurut rekan saya, jasanya dalam menyiapkan materi presentasi justru krusial.  Saat saya mengajukan visa turispun saya pernah ditolak, tentu saja tidak tahu alasan resminya.

Salah seorang teman yang pernah tinggal di Australia pernah berkata; Amerika itu memang aneh, kalau mau masuk secara legal susah, kadang-kadang ditolak dengan alasan yang nggak jelas. Tapi kalau sudah terlanjur masuk ilegal, nggak bakal diapa-apain. Ia membandingkan ketatnya pengawasan di Australia dengan cueknya Amerika. Tepatnya, cuek pada pihak tertentu dan galak pada pihak tertentu.

Ayah mertua saya sampai suka bercanda saat visa imigran saya tidak kunjung disetujui. Kira-kira begini terjemahan kata mertua:

Kamu pake prosedur ribet, bayar mahal, harus pisah ama suami lama. Mending kamu ke Meksiko. Dari sana baru nyebrang ke Amerika lewat hutan atau berenang. Pasti lebih cepat, dan kalau ketangkep gak diapa-apain

Ibaratnya, yang sudah terlanjur ilegal akan dibiarkan. Yang mengisi formulir, bayar form pendaftaran yang tidak murah dan berusaha patuh aturan secara baik-baik,  justru dipersulit .

Saya pernah menghadiri acara Indonesian Gathering di Irving . Acara ini  disponsori oleh Lembaga Sensus Nasional Amerika Serikat.  Sponsor numpang bikin halo-halo di tengah acara; pengumuman ke hadirin Indonesia untuk berpartisipasi mensukseskan sensus.  Yang bikin saya heran, petugas sensus ini juga berkata.  “If you’re illegal,  just fill  out the census form, we count you too”. Aneh banget.   Jadi petugas sensus pun udah maklum kalau di komunitas Indonesia ada yang menyalahi izin tinggal, tapi mereka tetap dihitung dan tidak diperkarakan.  Yang saya tahu, biasanya orang ilegal itu ‘dianggap nggak ada’ dan tidak masuk dalam hitungan. Tetapi di sini, bahkan reformasi kesehatan yang baru-baru ini digolkan Presiden Obama ikut mengcover para pendatang illegal yang diperkirakan bisa mencapai 20 juta orang!

2010-census-logo

Konon katanya, dulu lobi Partai Republik cenderung membiarkan pendatang ilegal masuk karena mereka juga butuh tenaga kerja murah demi lancarnya aktivitas ekonomi kapital. Di sisi lain,  Partai Demokrat jargonnya memihak minoritas, jadi tetap butuh imigran ilegal untuk mendapatkan simpati suara dalam pemilu. Ya, kalau semua digratisin buat  imigran ilegal, mereka dapet suara buat melanggengkan kekuasaan. Dalam hal ini kedua partai sama-sama muna’lah, menurut saya. Yang satu jilat pemilik modal yang mau buruh murah, yang satu jilat buruh murah demi mendapatkan suara. Dua-duanya berantem sengit sok mementingkan rakyat padahal mah… ya tau sendiri politisi.

Nah, sekarang ekonomi Amerika lagi hancur, banyak orang kehilangan pekerjaan, persoalan pendatang ilegal ini jadi ngetop lagi karena orang Amerika sekarang mau kerja apa saja dan dibayar murah, tidak lagi butuh pendatang ilegal. Pendatang ilegal  justru ditakutkan membebani anggaran negara  karena pemerintah harus menyediakan pendidikan dan kesehatan buat mereka, padahal sebagian besar mereka tidak membayar pajak.

Reformasi hukum imigrasi di Arizona yang membiarkan petugas untuk mencek kelengkapan status dokumen izin tinggal di mana saja, serta merta jadi kontroversi dan “hot button issue” buat para politisi.  Ujung-ujungnya dianggap melanggar HAM. Waduh, menurut saya ini lebay banget. Ngecek KTP masak melanggar HAM, sih? Begitulah pandangan orang  “awam” seperti saya.

Nah, balik lagi ke razia KTP. Saya malah ‘bangga’ karena di Indonesia ada razia KTP. Terlepas dari pelaksanaannya yang juga pastinya pilih kasih dan sering disalahgunakan jadi ‘narik setoran’, tapi secara konsep saya setuju bahwa sebetulnya ketegasan dalam hal penduduk legal dan ilegal itu perlu banget. Aneh saja bagi saya, buat negara ‘maju’ kayak Amerika. Sempat-sempatnya sibuk ngurusin negara lain sampe heboh ikutan perang segala, tapi mengurusi pendatang ilegal di negara sendiri dan bikin razia KTP aja mereka nggak bisa.

Memutus Siklus Kebencian

Catatan: Tulisan saya berikut ini pertama saya publikasikan di Kompasiana bulan Agustus 2012.

————————————————————————————————–

Saya tinggal di Texas. Negara bagian di Amerika Serikat  yang terkenal basis kaum konservatif-republik. Di kampungnya George Bush ini, bahkan televisi di ruang publikpun sering default/setelan utama-nya adalah Fox News, media yang cenderung menyuarakan pandangan konservatif-republik dan sering menampilkan berita ‘tidak enak’ tentang Islam. Satu hari, ketika saya menjadi relawan di rumah sakit setempat, seorang pria tak dikenal menghampiri saya dengan muka masam dan bertanya. “Are you a muslim? Do you hate America? Do you hate Jews?” Belum habis kaget saya, ia sudah mencerocos marah sambil berkata, bahwa setiap kali ia berjumpa dengan wanita berjilbab seperti saya, bulu kuduknya selalu merinding menahan marah bercampur ngeri. Ia pergi berlalu. Tak puas sampai di situ, saat kembali melewati meja saya, ia melintangkan telunjuk di lehernya, menggambarkan kode/ancaman “potong leher” sembari berkata “all muslims should be vanished from this world“; semua muslim harus lenyap dari muka bumi.

Jadi kalau ditanya ‘Bener gak sih, Amerika (khususnya Texas) diskriminasi terhadap muslim?’. Saya akan jawab, secara institusi, tidak. Di manapun, selalu ada segelintir orang gila, pembenci (haters) ataupun orang biasa yang punya kecenderungan demikian. Umumnya merekalah yang membuat headline.

Dalam kasus penyerangan terhadap saya di atas, memang benar ada SATU orang gila yang menyerang dan mengancam saya. Tetapi sebagai perbandingan, tak kurang SEPULUH orang yang menolong dan mendukung saya. Pertama, rekan saya Patricia yang berusaha menegur si orang gila. Kedua dan ketiga, rekan relawan pasangan suami istri Herman dan Marie. Marie ikut menyaksikan kejadian itu dan tanpa sepengetahuan saya, suaminya Herman bertindak cepat melapor ke sekuriti rumah sakit. Kepala sekuriti rumah sakit berikut stafnya turun tangan dan menghubungi polisi setempat. Selanjutnya, polisi setempat mendeteksi wajah sang penyerang lewat tangkapan kamera video rumah sakit, mengidentifikasi pelaku dan mencetak fotonya untuk kemudian disebarkan dan sang penyerang dilarang masuk di seluruh area rumah sakit. Belum lagi rekan dari bagian SDM /HR Department menghampiri dan memeluk saya sembari berkata “I heard what that man said to you. I am so sorry about that, you know that is NOT America.” Mungkin perasaan malu dia terhadap kaumnya, sama dengan perasaan malu saya ketika orang menyerang mengatasnamakan agama saya.

Ternyata SATU orang yang menyerang saya berlatar belakang sama dengan sekian banyak orang yang menolong saya. Mereka semua adalah kaum konservatif, republikan, Kristen atau Katolik yang religius, penonton setia Fox News dan hampir semuanya keluarga militer/veteran. Semua atribut–atribut yang ‘biasa’nya diasosiasikan dengan kaum haters. Namun kenyataannya, lebih banyak yang menolong daripada yang membenci. Atasan saya, James, seorang veteran perang dan penganut Kristen Methodist yang sangat cinta keluarga, saat itu bertindak tegas dan protektif. Ia menelpon suami saya untuk memastikan bahwa saya terlindungi. Sehari-hari, James merupakan teman diskusi saya yang menyenangkan. Dari soal kerjaan, acara TV, tak jarang diskusi merambah ke urusan agama dan politik bahkan topik ‘hot button issue‘ seperti konflik Israel dan Palestina yang biasanya tidak bisa didiskusikan dengan kepala dingin, bisa kami diskusikan dengan leluasa. Ini karena pemikirannya sejalan dengan saya bahwa konflik politik dan kepentingan media, membuat kerukunan dalam level komunitas yang sesungguhnya selalu ada, seolah tidak pernah eksis. Satu hari James berkata, ia sering sekali mendapatkan e-mail dari rekan-rekannya, orang Yahudi dan Nasrani, yang bernada benci dan curiga terhadap muslim. Seperti ‘Waspadalah terhadap setiap muslim, karena pada dasarnya mereka adalah teroris;  Bukan tergantung orangnya, tetapi memang ajaran Islam itu sendiri demikian; Bila ada orang muslim yang kelihatannya damai, itu karena mereka tidak mengamalkan kitabnya, padahal di Al Quran sendiri mengajarkan kekerasan’ dan sebagainya. Paham seperti ini sangat umum di kalangan yang curiga terhadap muslim. Namun menurutnya, ia tidak akan pernah meneruskan email-email semacam itu. Saya sepakat sekali dengan tindakannya. Sebagaimana saya tidak akan meneruskan berita “Awas bahaya Kristenisasi; Menghamili gadis muslim agar masuk Kristen” dsb, yang dibumbui kalimat-kalimat provokator dan tidak proporsional. Saya ingin menjadi pemutus siklus kebencian, bukan penyambung siklus kebencian itu.

Ada satu contoh warga negara Amerika, penduduk Texas yang juga menginspirasi saya dalam ide memutus siklus kebencian ini. Dia adalah Rais Bhuiyan. Ia muslim yang menyaksikan sahabatnya tewas, sementara matanya sendiri buta sebelah, akibat ditembak seorang kulit putih yang menyerang mereka karena “bertampang Arab/Islam”. Si penyerang mengaku kehilangan saudara dalam peristiwa 9/11 dan menimpakan kekesalan pada orang Islam dengan menembak beberapa orang India dan Pakistan tak bersalah di kios setempat. Texas adalah salah satu negara bagian  di Amerika yang masih menerapkan hukuman mati bagi pencabut nyawa orang, maka si bule ini pun terancam hukuman mati.

Kebanyakan orang bila mengalami peristiwa seperti Rais, mungkin akan  gembira sekali karena pembunuh temannya dan pembenci agamanya ini mendapatkan hukuman mati yang setimpal. Apalagi jika membaca blog/diary Mark Stroman, demikian nama si pembunuh, yang penuh kebencian dan sama sekali tidak menyesali tindakannya. Kebanyakan orang mungkin akan “playing the victim card” alias memainkan peran korban dengan seoptimal mungkin: berkoar-koar dan cari dukungan di media sosial, membuat ‘umat’ panas, memancing komentar dan solidaritas umat Islam agar berkata “tuh kan Amerika/non-muslim emang benci kita!!”. Tapi tidak dengan Rais Bhuyan. Sebaliknya, ia malah mengajukan petisi untuk meringankan hukuman mati terhadap Mark Stroman menjadi hukuman seumur hidup. Alasannya sederhana. Ia tak mau anak Mark Stroman menjadi yatim dan ikut-ikutan jadi pembenci seperti ayahnya. Selama ini iapun berupaya memberikan pengertian pada anak-anak temannya yang menjadi yatim akibat ulah Mark: bahwa jangan pernah membenci orang karena agamanya, bencilah  tindak kriminalnya. Bahwa dalam agamanya, Islam, memang hukuman mati dibenarkan, tapi memaafkan jauh lebih baik.

Saya pribadi termasuk yang beranggapan hukuman mati diperlukan, apalagi buat pembunuh/pemerkosa berantai atau teroris yang meledakkan bom di ruang publik dan merenggut banyak nyawa tak berdosa. Tetapi semangat perjuangan Rais Bhuiyan untuk memutus siklus kebencian tetap menyentuh saya. Walaupun akhirnya gubernur Texas Rick Perry konsisten pada hukum Texas dan tetap menghukum mati Mark Stroman, walaupun kemudian sikap Rais ini dimanfaatkan lagi ke polemik politik antara kaum demokrat yang anti hukuman mati dengan kaum konservatif yang pro hukuman mati, tetapi inti pesan yang ingin disampaikan Rais tetap membuka mata saya. Bahwa setiap orang punya pilihan untuk memutus siklus kebencian, atau terus membuktikan anggapan bahwa agama adalah biang kerusuhan, juga membiarkan diri menjadi komoditi media dan politisi untuk saling membenci.

Menimbulkan polemik dan kebencian dengan mengatasnamakan agama, bukan monopoli negara berkembang ataupun maju. Sebagaimana kita ketahui, di Indonesia, dalam Pilkada DKI kemarin, jargon “Jangan memilih pemimpin yang bukan Islam” mendadak populer lagi. Tiba-tiba ayat Al Quran mereka tafsirkan di luar konteks seolah-olah agama di KTP jadi lebih penting daripada kinerja dan akhlak pemimpin, padahal selama ini ketua RT, RW, lurah yang non-muslim tidak pernah diributkan. Mungkin minim atau kurang setorannya 🙂

Di Amerika pun demikian. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Barrack Obama sempat diisukan beragama Islam, agar suara beralih ke lawan politiknya. Kemudian yang baru-baru ini, Mitt Romney, kandidat presiden partai Republik, juga sempat dirundung kampanye negatif oleh rekan sesama kandidat Republiknya, karena ia beragama Mormon, salah satu aliran minoritas dalam Kristen yang kurang disukai sebagian besar pemeluk Kristen/Katolik sendiri. Sekalipun negara maju, isu dangkal seperti sentimen agama/aliran masih laku dijual untuk komoditas politik.

Selama masih banyak pemilih-pemilih yang gampang diadu domba dan diprovokasi oleh hal seperti itu, media, politisi dan penulis yang cari makan lewat isu agama akan terus memanfaatkan isu ini untuk kepentingan mereka, entah itu agar menaikkan oplah, menaikkan jumlah visitor dan komentator di situsnya, mengundang pemirsa dalam debat, merangkul pemilih untuk pemilu, ataupun agar jualan buku dan talk show-nya laku.

Walaupun sebagian besar dari kita menganggap saling membenci dan curiga atas nama agama itu hanya perbuatan orang bodoh, namun, tanpa sadar, kita sering ikut membesarkan para pembenci (haters) itu dengan dengan ikut meneruskan berita-berita negatif tentang mereka. Sebagai contoh, sudah bukan rahasia umum kalau banyak umat Islam kesal tehadap suatu organisasi tertentu yang tindakannya atas nama Islam tetapi sering berbuat kerusakan. Okelah, FPI. Saking gondoknya, kita kerap meneruskan berita tentang kerusakan yang mereka lakukan, lengkap dengan makian dan kutukan, berbalas pantun di status Facebook, media sosial dan forum online dan sebagainya. Memang benar kita kesal dengan perbuatan mereka, kita ingin perbuatan mereka ditindak secara hukum. Tetapi terkadang, tanpa tersadar, kita telah ikut “membesarkan” FPI dan melupakan kalau sebagian besar umat Islam itu cinta damai. Bahkan pura-pura tidak mau tahu kalau FPI pun tidak semuanya begitu! Suatu ketika teman saya memuat berita tentang FPI yang melakukan kegiatan sosial sangat positif dan tidak diliput media. Tidak seperti berita negatif tentang FPI, berita baik ini sangat minim “likes” “komentar” ataupun forward/share. Sudah terlanjur benci dan curiga. Bahkan saya sendiri yang sebetulnya pernah menyaksikan langsung bagaimana produktifnya FPI sewaktu sigap membersihkan dan menguburkan mayat saat bencana tsunami di Aceh, jadi tergiring juga ikut-ikut lupa dan mengeneralisasi mereka. Ini bukan soal pro-kontra, tapi proporsional sajalah!

Berbagi cerita positif tentang kerukunan umat beragama, jarang kita sebarkan. Kita menjadi ‘tersetir media’ atau ‘pandangan kolektif’ yang kurang kreatif mencari berita selain yang itu-itu saja. Kita jadi cenderung bertindak reaktif terhadap berita negatif. Malas dan tidak proaktif mengobservasi untuk suatu berita positif. Cukup meneruskan apa yang diinginkan media dan politisi? Tidak, kita jelas lebih baik dari mereka. Semoga.

—————————

Bacaan terkait:

1. Blog Rais Bhuyan: http://worldwithouthate.org/

2. Tulisan Mark Stroman sang terpidana mati:http://www.executionchronicles.org/stroman/mark-writes.htm

3. Common ground news: http://www.commongroundnews.org/

Mmmm……. MLM?

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada para pelaku MLM, saya suka sedih kalau ada teman akrab saya yang bergabung dengan MLM. Saya bukan menganggap MLM nggak halal atau hina. Pelaku MLM bisa setara dengan pencari nafkah lainnya, karena setiap orang punya preferensi sendiri soal bagaimana dia mencari nafkah, sesuai yang dia bisa dan dia suka.

Ini lebih karena berdasarkan pengalaman saya, biasanya kalau sudah bergabung dengan MLM, maka teman saya akan berubah menjadi satu dimensi. Ngomong di telpon, yang diomongin bisnisnya. Ketemuan reuni, berubah jadi ajang rekrut donlen. Acara curhat yang biasanya warna-warni dengan berbagai topik ngalor-ngidul gak penting, saling mencerahkan atau saling nyemangatin, berubah menjadi selipan motivasi memperkaya diri. Cek status Facebook, selalu ada pesan sponsor. Kangen si teman yang dulu… yang begitu kaya wawasan dan bisa ngobrolin apa aja. Sekarang sepertinya semua pertemanan tidak lagi tulus karena semua teman dan keluarga dianggap sebagai obyek donlen. Ada yang selalu menghina-hina pegawai kantoran dan menyombongkan diri kalau dia bisa ongkang-ongkang kaki kerja dari rumah sambil bercengkrama dengan anak. Ironisnya justru sering saya temukan pelaku MLM ini hidupnya lebih banyak buat kerja, kadang lebih parah dari pekerja kantoran, karena setiap saat kecuali saat tidur adalah saat mencari donlen bagi mereka.

Image

Saya tahu nggak semuanya begitu, tapi sayangnya saya banyak menemukan yang demikian. Sedih banget, kalo ada temen yang udah lama nggak ketemu  tiba-tiba mau ketemuan, saya berprasangka baik bahwa dia memang mau silaturahmi, eh pas ketemuan malah diprospek. 😦

Duit memang sarana penting untuk hidup di dunia dan akhirat. Tapi entah kenapa saya selalu merasa tersinggung dengan pendekatan MLM yang seolah menjadikan duit dan barang mewah sebagai tujuan, bukan sarana.  “Saya udah punya Ferrari, bergabunglah dengan saya anggota Diamond”. Bah… nggak tertarik. Seandainya pun saya kaya, saya nggak akan beli mobil mewah, tas mewah. Seandainya pun saya sekaya Bill Gates, saya akan sama kayak dia, pakai jam murahan dan pulpen murahan.

Bukan saya anti orang kaya dan nggak mau kaya. Saya kagum dengan teman teman yang berjiwa pengusaha, karena saya merasa saya nggak bakat jadi pengusaha. Mereka yang berinovasi, membangun bisnis dan menciptakan lapangan pekerjaan buat orang lain. Bill Gates dan Ross Perot adalah dua contoh yang saya kagumi. Yang disebut belakangan, saking banyak duitnya jadi bisa membangun Musium Sains tempat saya bekerja. Sisanya, adalah mama saya dan keluarga beliau. Mama mungkin hanya tamatan SMA, tapi beliau mempunyai naluri bisnis yang sayangnya tidak diwariskan kepada anak-anaknya.

Benang merah dari orang-orang yang saya kagumi adalah:  mereka berbisnis dan mereka mengerjakannya dengan passion, memang menyukai dan mengerti produk yang dijual.  Mereka melakukan sesuatu yang memang menyenangkan buat mereka dan menghasilkan uang.  Bukan menginginkan uang dan mobil mewah kemudian terpaksa menyukai produk yang dijual, yang padahal tidak bagus-bagus amat. Kebalikan dengan MLM: biasa yang ditonjolkan justru tujuannya menghasilkan uang dulu. Konsep produk justru sering tidak matang, penuh jargon dan tidak jujur membandingkan dengan kompetitor.  Dari semua bisnis yang pernah diprospek oleh teman, kebanyakan seperti itu, walaupun tidak semuanya. Oriflame adalah salah satu yang tidak muluk-muluk tapi cukup punya good value. Murah meriah dan terpakai. Yang lainnya penuh dengan jargon mengawang-awang yang bikin saya pusing. Dan lebih menyebalkannya lagi, selalu diiming-imingi dengan “downline bekerja untuk anda, tau-tau anda dapet duit”. Sesuatu yang sangat absurd menurut saya.

Kalaupun saya mau menginvestasikan uang saya tanpa bekerja, ya mungkin lebih baik beli properti atau patungan usaha di sektor real saja.  Sudah jelas. Gak perlu capek meyakini orang untuk beli produk yang sebenarnya tidak saya yakini betul manfaatnya. Berbohong dan menjadi palsu sungguh menguras energi.

Image

Ketika saya pindah ke Amerika, Alhamdulillah sudah jarang yang menawarkan bisnis MLM kepada saya.  Teman kuliah di sini pernah menawarkan Avon, saya beli beberapa produk yang bisa terpakai dan terus terang saya tidak berminat menjadi agen. Sekalinya ada yang menawarkan lagi, teman dari Indonesia.  Pada saat bersamaan seorang teman di Jepang juga ditawarkan MLM serupa. Apa karena kita tinggal di negara “maju” dianggap bisa memasarkan jaringan? Padahal, yang saya amati, di Amerika, bisnis seperti ini banyak dituntut secara hukum dan dipertanyakan legalitasnya. Amway sekalipun yang “berasal dari Amerika”, justru penuh kasus dan tidak begitu populer di sini. Di negara maju di mana kerja keras sangat dihargai, kebanyakan bisnis yang berbau “cari uang dengan cara mudah” malah justru tidak diminati. Sebaliknya di negara berkembang, lebih mudah menjual mimpi MLM dan jikapun banyak donlen merasa “terzalimi” karena hanya menjadi sapi perah upline nya, mereka tidak bisa menuntut karena kurangnya penegakan hukum.

Untuk yang sukses berMLM, silakan menikmati pekerjaannya, terus mencari rejeki dan beramal. Tapi ingat, perlakukan teman dan keluarga sebagaimana mestinya, jangan eksploitasi mereka dan jangan pula remehkan mereka yang tidak ingin menjalani hidup seperti anda. Banyak jalan menuju sukses, selain MLM 😉